Peran Arsip dalam Sejarah Indonesia

No Comments

Sejarah merupakan suatu penggambaran ataupun rekonstruksi peristiwa, kisah, maupun cerita yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Peristiwa-peristiwa tersebut didukung oleh evidensi-evidensi yang menguatkan atau yang juga sering disebut dengan sumber sejarah. Menurut bentuknya sumber sejarah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Sumber dokumenter (berupa bahan dan rekaman sejarah dalam bentuk tulisan)
  2. Sumber Korporal (berwujud benda, seperti bangunan, arca, perkakas, fosil, artefak, dan sebagainya)
  3. Sumber Lisan, terdiri atas sejarah lisan atau sejarah oral (oral history). Di sini yang menjadi sumber adalah manusia hidup, yang menyampaikan melalui mulut (secara oral) atau secara lisan berita sejarah. Untuk sejarah oral ini diperlukan nara sumber (manusia sebagai sumber). Selanjutnya sejarah oral itu bisa direkam.

Dalam melakukan penelitian sejarah para peneliti banyak menggunakan dokumen atau arsip daripada sumber lisan dan artefak. Oleh karena itu dalam konteks untuk penelitian sejarah, arsip dapat dikategorikan sebagai sumber primer, disebut demikian karena arsip merupakan pengetahuan tangan pertama (first hand knowledge)  dan rekaman sezaman dari suatu kejadian atau peristiwa, ini membuktikan bahwa sejarah dan arsip mempunyai relevansi yang kuat.

Dulu pemerintah termasuk lemah dalam melakukan hal pengelolaan arsip ini ditunjukkan dengan terjadinya masalah sengketa di perbatasan dengan Malaysia di daerah Tanjung Datu dan Camar Bulan di Kalimantan Barat serta Blok Ambalat yang belum tuntas karena membutuhkan data otentik. Sekiranya memiliki bukti otentik yang jelas, baik berupa peta atau bukti tertulis maka Indonesia sudah mempunyai argumentasi kuat di tingkat internasional. Selain itu Beberapa kasus besar pada tatanan kenegaraan tentang hilangnya arsip atau sukarnya temu balik arsip telah menjadi permasalahan umum seperti teks (naskah) Proklamasi 17 Agustus 1945 yang pernah dinyatakan hilang ketika akan dipatrikan pada tugu Monas Jakarta dan Keputusan menjual Indosat ke Negara Asing tidak mungkin terjadi bila data tentang perusahaan tersedia secara lengkap dan dipahami oleh penguasa negara pada waktu itu.

Namun pada saat ini Pemerintah Indonesia mulai melakukan upaya mendorong pengelolaan arsip, salah satunya adalah dengan melakukan digitalisasi arsip. Arsip mengenai sejarah yang sudah digitalisasikan antara lain arsip VOC, menyusul arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) dan arsip Gerakan Non Blok. Dua arsip terakhir ini bahkan diusulkan sebagai Memory of the World. Sebelumnya, arsip Babad Diponegoro dan arsip Negara Kertagama sudah mendapat pengakuan Memory of The World dari UNESCO, sehingga dengan mudah diakses di situs resmi UNESCO. Lagu Rasa Sayange, batik, dan angklung juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya nasional, termasuk wayang dan keris.

Adapun kunci untuk memasuki wilayah sejarah ialah sumber-sumber seperti legenda, folklor, prasasti, monumen hingga dokumen-dokumen, surat kabar, dan surat-surat. Semua yang disebutkan di atas merupakan rekaman aktivitas manusia. Segala sumber sejarah di atas tidak akan sampai dari generasi satu ke generasi berikutnya kalau tidak ada kesadaran pengelolaan sumber atau tidak ada kesadaran arsip yang dimiliki. Dengan memosisikan arsip sebagai pengetahuan dalam penelusuran warisan suatu bangsa, menunjukkan hubungan relevan dengan peran dan kedudukan arsip yakni sebagai pusat ingatan, sebagai sumber informasi dan sebagai alat pengawas yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi dalam rangka kegiatan perencanaan, penganalisaan, pengembangan, perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, pembuatan laporan pertanggungjawaban, penilaian dan pengendalian setepat-tepatnya. Selain itu Kesadaran nasional berakar pada kesadaran sejarah, kesadaran sejarah akan  terbangun dengan baik dari kesadaran dokumentasi (arsip) bangsa ini. Kesadaran tersebut dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi kebanggaan nasional dan memperkuat kebanggaan Indonesia. Kesadaran sejarah juga memantapkan identitas nasional sebagai simbol solidaritas nasional, hal ini berarti pertentangan-pertentangan yang mengarah pada perpecahan bangsa dapat dicegah.

 

More from our blog

See all posts